Pemimpin adalah pelayan bagi masyarakat,ini
sudah menjadi kesepakatan bersama di tengah-tengah
kehidupan bermasyarakat.Seiring berkembangnya pemahaman dewasa ini, justru
lebih banyak pemimpin yang minta dilayani oleh umat ataupun bawahannya.Mari
kita tengok ketika ada kunjungan kerja dari pejabat pusat atau pejabat yang
memiliki level lebih tinggi. Pejabat daerah atau Jajaran yang lebih rendah
sibuk memberikan pelayanan terbaik, dari penjemputan, penyediaan tempat
tinggal, menyiapkan panggung untuk pemimpin, memberikan kelengkapan akomodasi
sampai membawakan tasnya, menyertakan oleh-oleh bahkan tidak sedikit yang harus
menyediakan ‘uang lelah’.
Masyarakat yang harusnya dilayani, saat ini
menjadi terbalik. Pelayanan kepentingan masyarakat menjadi sangat sulit.
Misalnya untuk membuat KTP, SIM, mengurus perijinan sampai pernikahan dan
perceraian semuanya serba sulit.Bahkan tidak sedikit dari mereka yang meminta
“uang pelicin” untuk mempercepat urusan itu semua.Bahkan untuk urusan mengubur
jenazah harus membayar sejumlah uang agar semua berjalan dengan mudah.Pajak
harus dibayar setiap waktu tapi pelayanan publik memprihatinkan.Sebagaimana
pajak penerangan jalan yang dibayar setiap bulan namun kampung kita tetap
kegelapan. ‘Aisjah r.a berkata : saya
telah mendengar rasulullah saw bersabda di rumahku ini : ya Allah siapa yang
menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka
persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada
mereka, maka permudahlah baginya. (HR. Muslim).
Bagi seorang pemimpin, puasa bukanlah sekedar menahan diri
dari lapar dari haus sejak fajar hingga matahari terbenam di bulan Ramadhan.
Puasa seorang pemimpin ditujukan juga agar ia mampu menahan hawa nafsu dan
mampu melayani masyarakat dengan lebih baik, mampu berbagi dengan Ummat, dan
memberikan prioritas utama bagi kepentingan ummat.
Seandainya ada pemimpin seperti Umar bin
Khatab yang rela berkeliling melakukan pengawasan langsung terhadap keadaan
rakyatnya. Atau presiden seperti Syafrudin Prawiranegara yang tidak tamak
dengan kekuasaan.Pejabat seperti Hamka yang selalu sederhana.Pemimpin partai
seperti Wahid Hasyim yang selalu tawadhu atau Panglima yang zuhud (tidak
cinta dunia) sebagaimana Sudirman. Tentu jiwa pelayanan kepentingan umat akan
menjadi prioritas utama.
Kesadaran pemimpin untuk melayani masyarakat
adalah praktik yang telah dilakukan dan telah dicontohkan oleh para
nabi.Melayani dengan ketulusan, membantu orang untuk fokus pada kekuatan yang
dimiliki, membantu orang dalam menyelesaikan masalah adalah praktik-praktik
melayani yang memiliki kemuliaan.
Kepemimpinan didalam Islam pada hakekatnya
adalah berkhidmat, mengabdi, atau menjadi pelayan bagi
masyarakat.Kepemimpinan yang asalnya adalah Hak Allah diberikan kepada manusia
sebagai Khalifatullah fil ardli, wakil Allah SWT di muka bumi.Jika bukan
karena iradahNya, tak ada seorangpun yang mendapatkan amanah sebagai
pemimpin, baik kecil maupun besar.Oleh karena itu setiap amanah kepemimpinan
harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah.Allah memberikan amanah kepada
pemimpin untuk (1) mengatur urusan orang yang dipimpinnya (2) mengarahkan
perjalanan sekelompok manusia yang dipimpinnya guna mencapai tujuan bersama (3)
menjaga dan melindungi kepentingan yang dipimpinnya.Wewenang dan kekuasaan yang
diberikan kepada seorang pemimpin tidaklah ringan di mata Allah.Meskipun
seringkali godaan syaitan dengan iming-iming keuntungan dunia telah memalingkan
motivasi para pemimpin dari tujuan bersama.
Mengapa Allah SWT memberi kepercayaan kepada
manusia untuk menjadi pemimpin di atas dunia ini?Dan siapakah para pemimpin
sejati yang sesuai dengan tuntunan dari Allah?
Simaklah Firman Allah SWT
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(QS 2:30)
Bulan Puasa adalah momen
yang tepat untuk melatih diri kita menjadi pelayanan bagi masyarakat.Untuk kita
semua, Anda dan juga saya.