Pendahuluan
Benedict
Anderson, seorang Indonesianist mengungkapkan bahwa sejarah Indonesia
adalah sejarah pemudanya. Pernyataan Ben Anderson ini tidak salah memang
apabila dikaitkan dengan sejarah panjang bangsa Indonesia, dimana
pemuda menjadi actor dari setiap langkah perjalanan bangsa Indonesia.
Jika pemuda angkatan 1908 berhasil memupuk bibit nasionalisme, pemuda
angkatan 1928 sukses menggalangkan ideologi persatuan nasional,
sedangkan pemuda angkatan 1945 mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Untuk angkatan 1966, 1974, hingga 1990an bisa dikatakan hanya mampu
memerankan dirinya sebatas kekuatan korektif.
Baik
buruknya bangsa dan maju mundurnya masyarakat sangat ditentukan oleh
komunitas pemuda, karena pemuda memiliki peran sentral dan strategis.
Tidak berlebihan bila Lipset (1961) mengatakan bahwa merencanakan masa
depan tanpa memperhitungkan dinamika pemuda adalah kesalahan besar. Akan
tetapi, persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana memformulasikan
gerakan yang lahir dari tangan para pemuda agar peran kepemimpinan,
Idealisme, dan kekuatan pengubah yang dimilikinya dapat terus
dipertahankan sebagai salah satu kekuatan inti perubahan dalam kehidupan
berbangsa bermasyarakat dan bernegara.