Manusia
pada dasarnya merupakan makhluk yang diberikian kemampuan lebih oleh
sang pencipta. Sehingga manusia mampu bertahan dan beradaptasi dengan
linkungan yang berubah degan ekstrimnya. Kemampuan dasar yang mampu
membuat manusia berdapaptasi sedemikian ekstrimnya adalah keyakinan,
emosional,dan logika. Dalam hal ini keyakinan merupakan pucak tatanan
dari emosional dan logika. Sehingga emosional dan logika akan berbasis
pada keyakinan sebagai dasar dalam berpijaknya. Keyakinan
tersebut bsia berbentuk agama atau kepercayan sedang kan emosinal bisa
berupan persaan adan kejiawaan dan logika adalah alat untuk menagani hal
yang bersifat materi.
Kampus
adalah suatu lingkungan yang memiliki ciri khas dengan masyarakatnya
yang disebut civitas akademika (masyarakat akademis). Dikatakan
demikian, karena warga kampus melaksanakan kegiatan akademis baik
bersifat kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstra kurikuler. Mahasiswa
sebagai salah satu elemen kampus baik secara individu maupun kelompok
dalam organisasi kemahasiswaan, memiliki dimensi yang luas. Di samping
sebagai bagian civitas akademika (dimensi keilmuan) mereka juga sebagai
bagian dari komunitas pemuda (dimensi sosial) yang memiliki tugas dan
tantangan masa depan. Dengan kesadaran akan kewajiban dan haknya maka
mahasiswa akan dapat mengembangkan potensinya dalam segala dimensi yang
melekat padanya. Mengingat adanya dinamika internal ( perkembangan
peran) dan tuntutan eksternal yang semakin berkembang, organisasi
dihadapkan pada upaya penyesuaian diri untuk merespon dinamika eksternal
dan fungsi integrasi potensial – potensial internal dalam melaksanakan
tugas yang semakin kompleks. Dinamika internal dan tuntutan eksternal
menyebabkan rumah sakit didalam melaksanakan fungsinya sebagai penyedia
jasa pelayanan kesehatan masyarakat dituntut untuk mampu mengatasi
permasalahan yang ada.
B. KOMITMEN ORGANISASI
Komitmen organisasi adalah kesediaan untuk mendedikasikan diri pada nilai dan tujuan organisasi (widyastuti, 2009). Fenomena
yang berkembang dalam dunia industri dan organisasi adalah para
profesional cenderung lebih berkomitmen terhadap profesi daripada
perusahaan tempatnya bekerja. Karyawan yang berkomitmen terhadap profesi
tidak selalu merujuk pada suatu organisasi, sehingga karyawan seperti
ini selalu berpindah – pindah kerja ke tempat lain (Fineman dkk., 2005).
Fenomena tersebut salah satunya disebabkan oleh adanya kesenjangan
antara karyawan yang bekerja disatu perusahaan dengan karyawan yang
bekerja di tempat lain, walaupun mereka memiliki job desk yang
sama. Beberapa orang yang terpengaruh pada ahkirnya mengambil keputusan
untuk berpindah kerja ke perusahaan lain, tapi tidak sedikit pula yang
memutuskan untuk tetap bekerja di perusahaan terkait.
C. BUDAYA ORGANISASI
Sebagian para ahli seperti Stephen P. Robbins, Gary Dessler (1992) dalam bukunya yang berjudul “Organizational Theory”
(1990), memasukan budaya organisasi kedalam teori organisasi. Sementara
Budaya perusahaan merupakan aplikasi dari budaya organisasi dan apabila
diterapkan dilingkungan manajemen akan melahirkan budaya manajemen.
Budaya organisasi dengan budaya perusahan sering disalingtukarkan
sehingga terkadang dianggap sama, padahal berbeda dalam penerapannya.
Kita tinjau Pengertian budaya itu sendiri menurut : “The International Encyclopedia of the Social Science” (1972) dapat dilihat menurut dua pendekatan yaitu pendekatan proses (process-pattern theory, culture pattern as basic) didukung oleh Franz Boas (1858-1942) dan Alfred Louis Kroeber (1876-1960). Bisa juga melalui pendekatan structural-fungsional (structural-functional theory, social structure as abasic) yang dikembangkan oleh Bonislaw Mallllinowski (1884-1942) dan Radclife-Brown yang kemudians dari dua pendekatan itu Edward Burnett Tylor (1832-1917 secara luas mendefinisikan budaya sebagai :”…culture
or civilization, taken in its wide ethnographic ense, is that complex
whole wich includes knowledge,belief, art, morals, law, custom and any
other capabilities and habits acquired by man as a memmmber of society” atau Budaya juga dapat diartikan sebagai : “Seluruh
sistem gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia
dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya melalui proses
belajar(Koentjaraningrat, 2001: 72 ) sesuai dengan kekhasan etnik, profesi dan kedaerahan”(Danim, 2003:148).
Akan
tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita lebih memahami budaya dari
sudut sosiologi dan ilmu budaya, padahal ternyata ilmu budaya bisa
mempengaruhi terhadap perkembangan ilmu lainnya seperti ilmu Manajemen
Sumber Daya Manusia (SDM). Sehingga ada beberapa istilah lain dari
istilah budaya seperti budaya organisasi (organization culture) atau budaya kerja (work culture) ataupun biasa lebih dikenal lebih spesifik lagi dengan istilah budaya perusahaan (corporate culture). Sedangkan dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah kultur pembelajaran sekolah (school learning culture) atau Kultur akademis (Academic culture)
Dalam
dunia pendidikan mengistilahkan budaya organisasi dengan istilah Kultur
akademis yang pada intinya mengatur para pendidik agar mereka memahami
bagaimana seharusnya bersikap terhadap profesinya, beradaptasi terhadap
rekan kerja dan lingkungan kerjanya serta berlaku reaktif terhadap
kebijakan pimpinannya, sehingga terbentuklah sebuah sistem nilai,
kebiasaan (habits), citra akademis, ethos kerja yang
terinternalisasikan dalam kehidupannya sehingga mendorong adanya
apresiasi dirinya terhadap peningkatan prestasi kerja baik terbentuk
oleh lingkungan organisasi itu sendiri maupun dikuatkan secara
organisatoris oleh pimpinan akademis yang mengeluarkan sebuah kebijakan
yang diterima ketika seseorang masuk organisasi tersebut.
Fungsi pimpinan sebagai pembentuk Kultur akademis diungkapkan oleh Peter, Dobin dan Johnson (1996) bahwa :
Para pimpinan sekolah khususnya dalam kapasitasnya menjalankan fungsinya sangat berperan penting dalam dua hal yaitu : a). Mengkonsepsitualisasikan
visi dan perubahan dan b). Memiliki pengetahuan, keterampilan dan
pemahaman untuk mengtransformasikan visi menjadi etos dan kultur
akademis kedalam aksi riil (Danim, Ibid., P.74).
Pola pembiasaan dalam sebuah budaya sebagai sebuah nilai yang diakuinya bisa membentuk sebuah pola prilaku dalam hal ini Ferdinand Tonnies membagi kebiasaan kedalam beberapa pengertian antara lain :
o Kebiasaan
sebagai suatu kenyataan objektif sehari-hari yang merupakan sebuah
kelajiman baik dalam sikap maupun dalam penampilan sehari-hari.
o Kebiasaan
sebagai Kaidah yang diciptakan dirinya sendiri yaitu kebiasaan yang
lahir dari diri pendidik itu sendiri yang kemudian menjadi ciri khas
yang membedakan dengan yang lainnya.
o Kebiasaan
sebagai perwujudan kemauan untuk berbuat sesuatu yaitu kebiasaan yang
lahir dari motivasi dan inisatif yang mencerminkan adanya prestasi
pribadi.
D. LOYALITAS
Secara umum loyalitas
dapat diartikan dengan kesetiaan, pengabdian dan kepercayaan yang
diberikan atau ditujukan kepada seseorang atau lembaga, yang didalamnya
terdapat rasa cinta dan tanggung jawab untuk berusaha memberikan
pelayanan dan perilaku yang terbaik (Rasimin,1988). Hal ini selaras
dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa
Indonesia (1990) yang menyatakan bahwa loyalitas adalah kesetiaan,
kepatuhan dan ketaatan.Barrold (Muhyadi,1989)
mengemukakan bahwa loyalitas adalah kemauan bekerja sama yang berarti
kesediaan mengorbankan diri, kesediaan melakukan pengawasan diri dan
kemauan untuk menonjolkan kepentingan diri sendiri. Kesediaan
untuk mengorbankan diri ini melibatkan adanya kesadaran untuk
mengabdikan diri kepada perusahaan. Pengabdian ini akan selalu menyokong
peran serta karyawan dalam perusahaan.
Steers & Porter (1983) berpendapat bahwa pertama, loyalitas kepada perusahaan sebagai sikap, yaitu sejauh mana seseorang karyawan mengidentifikasikan tempat kerjanya yang ditunjukan dengan keinginan untuk bekerja dan berusaha sebaik-baiknya dan kedua, loyalitas terhadap perusahaan sebagai perilaku, yaitu proses dimana seseorang karyawan mengambil keputusan pasti untuk tidak keluar dari perusahaan apabila tidak membuat kesalahan yang ekstrim.
Steers & Porter (1983) berpendapat bahwa pertama, loyalitas kepada perusahaan sebagai sikap, yaitu sejauh mana seseorang karyawan mengidentifikasikan tempat kerjanya yang ditunjukan dengan keinginan untuk bekerja dan berusaha sebaik-baiknya dan kedua, loyalitas terhadap perusahaan sebagai perilaku, yaitu proses dimana seseorang karyawan mengambil keputusan pasti untuk tidak keluar dari perusahaan apabila tidak membuat kesalahan yang ekstrim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar