Andai
Soekarno, Abikusno, Semaun, Alimin, Musso, Haji Agus Salim,
Kartosuwiryo, KH Mas Mansyur dan tokoh besar lainnya tak pernah kos di
rumah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, mungkin sejarah tak akan pernah
menulis mereka sebagai tokoh yang berpengaruh besar terhadap kemerdekaan
bangsa. Maha guru penentang feodalisme; dengan sukarela melucuti gelar
kebangsawanan yang mengalir pada setiap tetes darahnya, justru ia tidak
sepakat dengan laku dodok lunga jongkok didepan bangsawan, ia
meretas jalan kesetaraan, HOS Tjokroaminoto adalah Maha Guru kaum
pergerakan. Perjuangan sang maha guru yang lahir pada 16 Agustus 1882 di
kota Reog Ponorogo untuk menuntut kesetaraan itu terlihat jelas dalam
pidato dan tulisan-tulisan Tjokro. Pada 1914, di Doenia Bergerak, ia menulis Sajak perlawanan:
Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut didunia.
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap, sehingga hanya kulit tersisa.
Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya bekerja, dan memakan dagingnya.
Tapi kalau mereka tau hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas.
Bahasamu terpuji dan halus diseleuruh dunia, dan sopan pula.
Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko.
Kalau kau balikkan kau pun dianggap kurang ajar.
Jika
diperhatikan isi pidatonya tersebut terlihat jelas bila sang maha guru
ini menentang keras penindasan, dan menuntut kesetaraan. Dalam
kesempatan kali ini penulis mencoba beruntung penulis dapat mewawancarai
maha guru tokoh pergerakan, pada 19 /10/2011, jam 23:04.
Siapa saja pemuda yang ngekost di rumah anda?
Soekarno,
Mas Mansyur, Semaun (Semoenof: nama Komunis yang didapat saat mondok di
Sofyet), Alimin (Iva Al-Minsky), Musso, Kartosuwiryo, H Agus Salim, dan
penghuni lain saya lupa.
Seperti apa sih gambaran rumah bapak yang dijadikan tempat tinggal mereka?
Saya
tinggal di tengah-tengah perkampungan padat, hanya beberapa puluh meter
dari Kali Mas yang membelah kota Surabaya, tepatnya di gang peneleh
VII. Rumah saya tidak begitu luas, saya tinggal bersama istri dan ke
empat anak saya, kami tinggal di bagian depan, sedangkan bagian belakang
rumah disekat menjadi kamar kecil-kecil, kira-kira 3x3 meter. Alimin
dan Muso yang dating lebih awal menempati kamar paling depan sedangkan
soekarno menempati kamar paling belakang, tanpa jendela, hanya
beralaskan ubin, dan berbantal sarung. Disanalah mereka tinggal.
Pada waktu mereka tinggal dirumah bapak, usia mereka rata-rata berapa?
Soekarno
kira-kira berusia 15 tahun, karena saya akrab dengan ayahnya Soekemi
Sosrodihardjo, kemudian beliau menitipkan soekarno pada saya. Alimin,
Muso, dan semaun tidak jauh berbeda dari segi usia dengan Soekarno,
kecuali Kartosuwiryo dan Agus (KH Agus Salim) mungkin agak kelihatan
lebih dewasa.
Sepulang sekolah, apa saja kegiatan mereka di kostan?
Biasanya
mereka makan dirumah, kemudian saya sering melihat mereka ke took buku
depan rumah, entah apa yang mereka baca, tapi suatu ketika saya Tanya
pada pemilik took buku itu H. Abdullah Latief Zein, mereka biasanya
ngapain ke took buku? Menurut pak Latief mereka selalu membaca buku
disini, atau hany sekedar milih-milih buku atau bahkan menyembunyikannya
untuk dibeli nanti di awal bulan.
Kegiatan apa yang sering membuat anda dan anak kost kumpul?
Diskusi dan makan malam.
Seberapa sering anda diskusi dengan mereka?
Hampir setiap malam
Apakah ada orang lain yang juga ikut dalam diskusi itu?
Ada, anak-anak sering mengajak teman-temannya diskusi disini, tapi saya lupa nama-namanya.
Masalah masalah apa saja yang sering didiskusikan?
Kita rutin diskusi kondisi bangsa, juga kita rutin mendalami Nasionalisme, Sosialisme, dan Agama.
Setelah
diskusi, apa yang terjadi dengan mereka? Apakah sejak saat itu, sudah
terdapat tanda-tanda mereka akan menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan
Indonesia?
Saya belum berfikir sejauh itu, karena semangat yang mereka miliki sudah seharusnya dimiliki oleh semua pemuda bangsa ini.
Berapa lama mereka tinggal dirumah anda?
Selama mereka sekolah saja.
Setelah anda keluar dari rumah, mereka mendirikan organisasi masing-masing yang akhirnya berseberangan, pendapat anda?
Perbedaan
itu adalah Hikmah kata Rasul. Biarlah, walau saya sempat kesal dengan
tingkah Semaun dan Darsono yang bilang saya boros menggunakan anggaran
Organisasi, tapi saya tidak menggunakan untuk suap apalagi kepentingan
pribadi seperti elit bangsa setelah saya.
Bagaimana
pendapat anda dengan orang lain yang beranggapan, bahwa anda sengaja
mendidik Alimin, Musso, dan, Semaun untuk mendalami Sosialisme, Soekarno
mendalami Nasionalisme, mas Mansyur dan Kartosuwiryo anda fokuskan ke
Islam?. Sehingga Alimin Musso dan Semaun memilih Komunisme sebagai jalan
pergerakannya, Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia, Mas
Mansyur, Agus Salim dan Kartosuwiryo memilih jalan Islam sebagai alat
perjuangan.
Itu
kan pendapat orang, silahkan saja mereka mau bilang apa, Negara
memberikan kebebasan terhadap rakyatnya untuk mengungkapkan pendapat.
Anda
sebagai salah satu pemikir Indonesia paling awal dengan proses
Islamisasi Ilmu, yaitu Islamisasi konsep Sosialisme Marxist. Yang sering
disebut dengan sosialisme Islam. Apa sebenarnya Sosialisme Islam ini?
Pada
dewasa ini umumnya dipeluk oleh kaum Sosialis dan juga oleh kaum
Communist di negeri-negeri Barat, yaitu yang lumrahnya dosebut
wefenschappeliik socialisme (socialisme berdasar pengetahuan) atau
disebut Marxisme namanya. Maksudnya uraian ini ialah buat menunjukkan,
bahwa kita orang Islam tidak boleh dan tidak dapat menerima segenapnya
wefenschappeliik socialisme pelajarannya Karl Marx itu. Meskipun
wefenschappeliik socialisme menampak dan mengakui dirinya satu peraturan
tentang urusan harta benda (economisch stelsel), tetapi sesungguhnya
Marxisme itu sama sekali berdiri di atas dasar cita-cita semata-mata
beralasan perkara hikmah belaka (wrisgeerige basis)...
Sosialisme
Cara Islam bertujuan untuk melaksanakan kedamaian dan keselamatan
berdasarkan pada tafsir kata Islam yang memiliki 4 makna utama, yaitu:
- Aslama, maknanya ketundukan. Ketundukan harus diiutamakan kepada Allah, kepada Rasul dan Para nabi serta kepada pemimpin Islam.
- Salima, maknanya keselamatan. Kesematan di dunia dan akherat apabila setiap muslim menjalankan ajaran Islam secara sungguh-sungguh.
- Salmi, maknanya kerukunan. Kerukunan harus dilaksanakan dan diimplementasikan di antara sesama Muslim.
- Sulami, maknanya tangga. Setiap muslim yang menjalankan ajarannya dengan sungguh-sungguh haruslah melalui tingkatan-tingkatan yang bermakna keselarasan dunia dan akhirat sebagai simbol menuju derajat kesempurnaan hidup.
Kurang lebih seperti itulah, lebih lengkapnya silahkan baca buku saya.
Anda
sebagai tokoh Islam yang sering mengutarakan Islam keindonesiaan dan
Nasionalisme Islam, seperti apakah nasionalisme dalam Islam itu?
Dengan
alasan agama itu, kita akan berdaya upaya menjunjung martabat kita kaum
bumi putera dengan jalan yang syah. Menurut dalil dari kitab (kita
lupa dalilnya dan namanya kitab tadi, red), orang pun mesti menurut pada
pemerintahan rajanya. Siapakah sekarang yang memerintahkan pada kita,
bumi putra? Ya, itulah kerajaan Belanda, oleh sebab itu menurut syara
agama Islam juga, kita harus menurut kerajaan Belanda. Kita mesti menepi
dengan baik-baik dan setia wet wet dan pengaturan belanda yang diadakan
buat kerajaan belanda. “ Setelah itu ia berkata dengan nada lantang“
lantaran diantara bangsa kita banyaklah kaum yang memperhatikan
kepentingannya sendiri dengan menindas pada kaum yang bodoh. Maka
kesatriaan kaum yang begitu sudah jadi hilang dan kesatriaannya sudah
berbalik jadi penjilat pantat”
Nasionalisme
menjadi hal utama modal perjuangan anda, menurut anda apakah pemuda dan
mahasiswa saat ini sudah memiliki rasa nasionalisme?
Belum.
Mengapa?
saya
pun jika hidup di jaman kalian mungkin akan tergoda dengan godaan angin
surga berupa uang dan jabatan, seperti halnya dulu SI tergoda gulden. Pemuda
dan mahasiswa sekarang lebih asik dan lebih senang menjadi budak senior
mereka, mereka sring terjebak politik praktis, ya walaupun kita itu,
memang tidak akan pernah bermain pada ruang yang kosong toh..
Cobalah
mahasiswa itu jangan mau kalau disuruh aksi oleh kepentingan
orang-orang yang sudah jelas merugiakan bangsa ini, aksi itu harus
melalui telaah menadalam dulu jangan asal berangkat kesana. Nanti
ditanya maksud dan tujuan mereka apa tidak tahu. Sudah pemimpinnya Blenger, mahasiswanya malah keblinger.
Mahasiswa sekarang ngomongin nasionalisme tapi mereka sendiri tidak
memahami dengan utuh arti nasionalisme itu sendiri, justru aku pikir
mereka lebih faham dengan perkembangan nasionalisme itu sendiri,
mahasiswa sekarang memahami Nasionalisme dengan cara-cara pragmatis dan cenderung oppurtunis.
Demikian hasil obrolan santai dengan maha guru dalam dunia imajinasiku.
Pemuda, dan Mahasiswa Pragmatis...
BalasHapus