Jumat, 20 Juli 2012

Benahi Student Government, Demi Kedaulatan Mahasiswa


Pendahuluan
Benedict Anderson, seorang Indonesianist mengungkapkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya. Pernyataan Ben Anderson ini tidak salah memang apabila dikaitkan dengan sejarah panjang bangsa Indonesia, dimana pemuda menjadi actor dari setiap langkah perjalanan bangsa Indonesia. Jika pemuda angkatan 1908 berhasil memupuk bibit nasionalisme, pemuda angkatan 1928 sukses menggalangkan ideologi persatuan nasional, sedangkan pemuda angkatan 1945 mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Untuk angkatan 1966, 1974, hingga 1990an  bisa dikatakan hanya mampu memerankan dirinya sebatas kekuatan korektif.
Baik buruknya bangsa dan maju mundurnya masyarakat sangat ditentukan oleh komunitas pemuda, karena pemuda memiliki peran sentral dan strategis. Tidak berlebihan bila Lipset (1961) mengatakan bahwa merencanakan masa depan tanpa memperhitungkan dinamika pemuda adalah kesalahan besar. Akan tetapi, persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana memformulasikan gerakan yang lahir dari tangan para pemuda agar peran kepemimpinan, Idealisme, dan kekuatan pengubah yang dimilikinya dapat terus dipertahankan sebagai salah satu kekuatan inti perubahan dalam kehidupan berbangsa bermasyarakat dan bernegara.  
Kampus adalah suatu lingkungan yang memiliki ciri khas dengan masyarakatnya yang disebut civitas akademika (masyarakat akademis). Dikatakan demikian, karena warga kampus melaksanakan kegiatan akademis baik bersifat kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstra kurikuler. Mahasiswa sebagai salah satu elemen kampus baik secara individu maupun kelompok dalam organisasi kemahasiswaan, memiliki dimensi yang luas. Di samping sebagai bagian civitas akademika (dimensi keilmuan) mereka juga sebagai bagian dari komunitas pemuda (dimensi sosial) yang memiliki tugas dan tantangan masa depan. Dengan kesadaran akan kewajiban dan haknya maka mahasiswa akan dapat mengembangkan potensinya dalam segala bidang yang melekat padanya.
Disinilah proses pendidikan menjadi factor paling penting dalam membentuk kualitas pemuda agar dapat memberikan kontribusi positif melalui aktualisasi dirinya. Pendidikan yang tidak terbatas pada wilayah formal dengan sendirinya menjadikan organisasi kemahasiswaan dan pergerakan kemahasiswaan memiliki misi untuk membangun jiwa kepemimpinan para pemuada dan mahasiswa. Organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan harus terus ditumbuhkan dan dikembangkan kembali dalam kehidupan masyarakat sebagai tempat pembinaan dan ruang bagi tumbuh kembangnya jiwa- jiwa yang kreatif, inovatif, progressif, produktif, serta selalu Aspiratif. Melalui organisasi kemahasiswaan mereka dibina dan diarahkan potensinya sehingga memiliki daya tahan dan kesiapan dalam menghadapi tantangan tantangan akhir zaman.organisasi mahasiswa tengah berperan untuk membentuk pemimpin- pemimpin masa depan yang memiliki konsep diri yang jelas dan juga daya adaptabilitas terhadap perubahan, termasuk menawarkan idealism perbaikan dalam kehidupan yang dinamis.

Student Government sebagai Sistem Kedaulatan Mahasiswa
Di beberapa Universitas menyediakan berbagai fasilitas dalam peningkatan potensi diri civitas akademiknya, baik dalam bidang akademik ataupun  dalam  bidang ke Organisasian. Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam organisasi kemahasiswaannya menerapkan system Student Government ( Pemerintahan Mahasiswa ) yang dulu sempat digagas oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Juwono Sudarsono, MA melalui salinan keputusan Mendikbud RI no 155/ U/ 1998 tentang pedoman umum Organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi. Sisitem student government yang diterapkan di UIN yang juga biasa disebut BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa ) yang diterapkan mulai dari tingkat Jurusan, Fakultas, sampai Universitas. Proses pembentukan BEM melalui pemilu Raya yang calonnya berasal dari partai-partai politik yang berasal dari berbagai elemen kemahasiswaan.. dengan system dan mekanisme yang terus berjalan mahasiswa UIN Jakarta mencoba untuk belajar menerapkan trias politika dimana lembaga eksekutif dipegang oleh BEM, lembaga legislative dipegang oleh DPM, dan Kongres Mahasiswa mempunyai Fungsi Yudikatif. Pembelajaran trias politika dikampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarata bertujuan untuk  mencapai mahasiswa yang bersifat intelektual- aktivis dan aktivis- intelektual, Aspiratif, Progressif, inovatif  dan guna memperkuat peran mahasiswa dalam pengambilan kebijakan tertinggi mahasiswa dikampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Walaupun dalam prosesnya Mahasiswa dalam beberapa hal tidak dilibatkan secara penuh dalam  pengambilan kebijakan kampus, akan tetapi, paling tidak system yang telah ada ini dapat membentuk serta mengembangkan organisasi kemahasiswaan di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
            Sejak didirikannya  Student Government di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tepatnya setelah bergesernya system ke Organisasian  dari Senat Mahasiswa Atau Dewan Mahasiswa pada tahun 1999 ke system Student Government UIN Syarif Hidayatullah Jakarta  serta ditandai dengan bergesernya kepengurusan lembaga Kemahasiswaan dari tahun  ke tahun, Perubahan ini adalah sebagai bentuk pembelajaran bagi Mahasiswa UIN yang dirasa paling berharga dalam pendewasaan bergonisasi mahasiswa yang lebih demokratis dikampus UIN Syarif Hidayatullah Jakrata.
            Oleh karena itu Konsep student Government yang dimiliki oleh UIN Syarif Hidayatullah Saat ini harus dipertahankan dan dijaga kewibawaanya demi terwujudnya cita-sita bersama yaitu menuju UIN Syarif Hidayatullah 500 world class University, karena pembelajaran civil society merupakan syarat utama menuju  masyarakat yang madani.

Terima Kasih
Semoga Manfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar