Perkembangan
politik Indonesia akhir-akhir ini semakin memanas, semakin menurunkan jiwa
nasionalisme dan bela Negara masyarakat Indonesia. Banyak hal yang menjadi
penyebab semua ini, bisa dari sikap individualis dan egois “rakyat” Indonesia yang
sudah tidak lagi berbicara sebagai “masyarakat” Indonesia, bisa juga karena tim
sukses para capres sering melakukan kampanye-kampanye hitam guna menjatuhkan
citra dan tingkat elktabilitas lawannya. Yang menarik menurut saya adalah
mengenai kampanye hitam yang dilakukan oleh tim sukses (apapun namanya) para
capres, dimana akhir-akhir ini berkembang isu yang menurut saya sungguh sangat
tidak mendidik masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Calon
Presiden nomor urut 1 Prabowo Subianto mantan Danjen Kopassus sedang di isukan
sebagai seorang Fasis yang begitu menyeramkan dan mencoreng peradaban dunia. Fasisme
sendiri adalah faham yang mengatur pemerintah dan masyarakat secara totaliter
yang dilakukan oleh seorang dictator partai tunggal yang bersifat supra
nasionalis, tidak rasionalis, militeris, dan imperialism. Totaliter artinya
menggunakan kekuasaan dan kekerasan pada semua bentuk hubungan masyarakat, baik
hubungan politik maupun hubungan social. Lebih lanjut, Wikipedia menjelaskan
bahwa Fasis percaya bahwa bangsa
memerlukan kepemimpinan yang kuat, identitas kolektif tunggal, dan akan dan
kemampuan untuk melakukan kekerasan dan berperang untuk menjaga bangsa yang
kuat. pemerintah Fasis melarang dan menekan oposisi terhadap negara. Fasisme
didirikan oleh sindikalis nasional Italia dalam Perang Dunia Iyang menggabungkan
sayap kiri dan sayap kanan pandangan politik, tapi condong ke kanan di awal
1920-an. Para sarjana umumnya menganggap fasisme berada di paling kanan. Fasis
meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai memberikan perubahan positif dalam masyarakat, dalam
memberikan renovasi spiritual, pendidikan, menanamkan sebuah keinginan untuk
mendominasi dalam karakter orang, dan menciptakan persaudaraan nasional melalui
dinas militer . Fasis kekerasan melihat dan perang sebagai tindakan yang
menciptakan regenerasi semangat, nasional dan vitalitas. Fasisme adalah anti-komunisme,
anti-demokratis, anti-individualis, anti-liberal, anti-parlemen,
anti-konservatif, anti-borjuis dan anti-proletar, dan dalam banyak kasus
anti-kapitalis Fasisme. menolak konsep-konsep egalitarianisme, materialisme,
dan rasionalisme yang mendukung tindakan, disiplin, hirarki, semangat, dan
keinginan. Dalam ilmu ekonomi, fasis menentang liberalisme (sebagai gerakan borjuis) dan Marxisme (sebagai sebuah gerakan proletar) untuk menjadi eksklusif
ekonomi berbasis kelas gerakan Fasis ini. ideologi mereka seperti yang
dilakukan oleh gerakan ekonomi trans-kelas yang mempromosikan menyelesaikan
konflik kelas ekonomi untuk mengamankan solidaritas nasional Mereka mendukung,
diatur multi-kelas, sistem ekonomi nasional yang terintegrasi. Negara-negara
yang menerapkan fasisme pada umumnya tidak memiliki system demokrasi dan warga
negaranya menerima fasis karena menganggap sesuai dengan sifat masyarakatnya. Terlepas
dari benar atau tidaknya isu yang mengatakan bahwa calon Presiden nomor urut
satu adalah seorang fasis, saya bertanya kepada saudara sekalian jika bangsa
ini dipimpin oleh orang yang dianggap fasis oleh sebagian kalangan????.
Sementara
itu, dilain pihak capres nomor urut 2 Joko Widodo mantan Walikota Solo dan
Gubernur DKI Jakarta yang belum menyelesaikan masa jabatannya diisukan sebagai
seorang komunis. Kita ketahui bersama bahwa bangsa Indonesia begitu sangat
trauma ketika mendengar kata komunis, bagaimana tidak, beberapa buku yang
dahulu dipelajari dan diajarkan disekolah-sekolah menyatakan begitu kejam dan
kejinya anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) membantai dan membunuh para alim
ulama, para kyai, dan beberapa jenderal pejuang kemerdekaan Indonesia. Sepertiga
penduduk dunia menganut ideology ini, namun ideology ini dicap sebagai ideology
pembunuh, pemerkosa, brutal, pembantai, dan dainggap tidak ber-Tuhan. Namun Banyak
sejarawan dan para sarjana yang membantah ini semua, jadi kebenarannya pun
masih banyak diperdebatkan. Terlepas dari itu semua, kita perlu tau bahwa
komunis itu adalah sebuah ideology, dimana Marx dan Engels dalam manifesto politiknya
berbicara mengenai perjuangan kelas dan kesejahteraan ekonomi. Benar atau
tidaknya semua keterangan mengenai komunis, dan terbukti atau tidaknya Capres
Nomor urut 2 sebagai seseorang yang berfaham komunis itu semua masih tanda
tanya besar? Dan apakah rakyat Indonesia mau dipimpin oleh orang yang diisukan
sebagai orang yang berfaham komunis?
Isu yang
terus bergulir ini ternyata sedikit banyak mempengaruhi para calon pemilih terutama
para pemuda di Indonesia. Generasi muda yang digadang-gadang sebagai generasi
penerus bangsa dalam pembangunan masyarakat dimasa depan justru berada pada
tingkat kegalauan yang dahsyat, frustasi dan krisis identitas yang
mengakibatkan mereka tidak memiliki karakter sebagai seorang pejuang dan
minimnya rasa nasionalisme. Seharusnya mereka bangga dengan bangsa Indonesia,
dengan Pancasila, dengan UUD 1945, dengan Bhineka Tunggal Ika yang
merepresentasikan semua suku, budaya, dan agama yang ada di Indonesia.
Mau tidak mau bangsa Indonesia
harus memilih, karena salah satu dari para capres ini nantinya akan memimpin Indonesia
selama 5 tahun ke depan. Isu mengenai keduanya memang belum terbukti
kebenarannya, namun jangan sampai “Ajang” Pilpres ini jangan sampai memcah
belah keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Kita harus memilih, namun
jangan sampai kita “Taklid” buta, gunakan AKAL
DAN HATI kita untuk menentukan pilihan 9 Juli mendatang. Jadilah pemilih
yang cerdas dan berkualitas. Demi Bangsa kita, Bangsa Indonesia..