Kamis, 26 Juni 2014

Fasis Vs Komunis : Kita Pilih Siapa?

Perkembangan politik Indonesia akhir-akhir ini semakin memanas, semakin menurunkan jiwa nasionalisme dan bela Negara masyarakat Indonesia. Banyak hal yang menjadi penyebab semua ini, bisa dari sikap individualis dan egois “rakyat” Indonesia yang sudah tidak lagi berbicara sebagai “masyarakat” Indonesia, bisa juga karena tim sukses para capres sering melakukan kampanye-kampanye hitam guna menjatuhkan citra dan tingkat elktabilitas lawannya. Yang menarik menurut saya adalah mengenai kampanye hitam yang dilakukan oleh tim sukses (apapun namanya) para capres, dimana akhir-akhir ini berkembang isu yang menurut saya sungguh sangat tidak mendidik masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Calon Presiden nomor urut 1 Prabowo Subianto mantan Danjen Kopassus sedang di isukan sebagai seorang Fasis yang begitu menyeramkan dan mencoreng peradaban dunia. Fasisme sendiri adalah faham yang mengatur pemerintah dan masyarakat secara totaliter yang dilakukan oleh seorang dictator partai tunggal yang bersifat supra nasionalis, tidak rasionalis, militeris, dan imperialism. Totaliter artinya menggunakan kekuasaan dan kekerasan pada semua bentuk hubungan masyarakat, baik hubungan politik maupun hubungan social. Lebih lanjut, Wikipedia menjelaskan bahwa Fasis percaya bahwa bangsa memerlukan kepemimpinan yang kuat, identitas kolektif tunggal, dan akan dan kemampuan untuk melakukan kekerasan dan berperang untuk menjaga bangsa yang kuat. pemerintah Fasis melarang dan menekan oposisi terhadap negara. Fasisme didirikan oleh sindikalis nasional Italia dalam Perang Dunia Iyang menggabungkan sayap kiri dan sayap kanan pandangan politik, tapi condong ke kanan di awal 1920-an. Para sarjana umumnya menganggap fasisme berada di paling kanan. Fasis meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai memberikan perubahan positif dalam masyarakat, dalam memberikan renovasi spiritual, pendidikan, menanamkan sebuah keinginan untuk mendominasi dalam karakter orang, dan menciptakan persaudaraan nasional melalui dinas militer . Fasis kekerasan melihat dan perang sebagai tindakan yang menciptakan regenerasi semangat, nasional dan vitalitas. Fasisme adalah anti-komunisme, anti-demokratis, anti-individualis, anti-liberal, anti-parlemen, anti-konservatif, anti-borjuis dan anti-proletar, dan dalam banyak kasus anti-kapitalis Fasisme. menolak konsep-konsep egalitarianisme, materialisme, dan rasionalisme yang mendukung tindakan, disiplin, hirarki, semangat, dan keinginan. Dalam ilmu ekonomi, fasis menentang liberalisme (sebagai gerakan borjuis) dan Marxisme (sebagai sebuah gerakan proletar) untuk menjadi eksklusif ekonomi berbasis kelas gerakan Fasis ini. ideologi mereka seperti yang dilakukan oleh gerakan ekonomi trans-kelas yang mempromosikan menyelesaikan konflik kelas ekonomi untuk mengamankan solidaritas nasional Mereka mendukung, diatur multi-kelas, sistem ekonomi nasional yang terintegrasi. Negara-negara yang menerapkan fasisme pada umumnya tidak memiliki system demokrasi dan warga negaranya menerima fasis karena menganggap sesuai dengan sifat masyarakatnya. Terlepas dari benar atau tidaknya isu yang mengatakan bahwa calon Presiden nomor urut satu adalah seorang fasis, saya bertanya kepada saudara sekalian jika bangsa ini dipimpin oleh orang yang dianggap fasis oleh sebagian kalangan????.
Sementara itu, dilain pihak capres nomor urut 2 Joko Widodo mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta yang belum menyelesaikan masa jabatannya diisukan sebagai seorang komunis. Kita ketahui bersama bahwa bangsa Indonesia begitu sangat trauma ketika mendengar kata komunis, bagaimana tidak, beberapa buku yang dahulu dipelajari dan diajarkan disekolah-sekolah menyatakan begitu kejam dan kejinya anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) membantai dan membunuh para alim ulama, para kyai, dan beberapa jenderal pejuang kemerdekaan Indonesia. Sepertiga penduduk dunia menganut ideology ini, namun ideology ini dicap sebagai ideology pembunuh, pemerkosa, brutal, pembantai, dan dainggap tidak ber-Tuhan. Namun Banyak sejarawan dan para sarjana yang membantah ini semua, jadi kebenarannya pun masih banyak diperdebatkan. Terlepas dari itu semua, kita perlu tau bahwa komunis itu adalah sebuah ideology, dimana Marx dan Engels dalam manifesto politiknya berbicara mengenai perjuangan kelas dan kesejahteraan ekonomi. Benar atau tidaknya semua keterangan mengenai komunis, dan terbukti atau tidaknya Capres Nomor urut 2 sebagai seseorang yang berfaham komunis itu semua masih tanda tanya besar? Dan apakah rakyat Indonesia mau dipimpin oleh orang yang diisukan sebagai orang yang berfaham komunis?
Isu yang terus bergulir ini ternyata sedikit banyak mempengaruhi para calon pemilih terutama para pemuda di Indonesia. Generasi muda yang digadang-gadang sebagai generasi penerus bangsa dalam pembangunan masyarakat dimasa depan justru berada pada tingkat kegalauan yang dahsyat, frustasi dan krisis identitas yang mengakibatkan mereka tidak memiliki karakter sebagai seorang pejuang dan minimnya rasa nasionalisme. Seharusnya mereka bangga dengan bangsa Indonesia, dengan Pancasila, dengan UUD 1945, dengan Bhineka Tunggal Ika yang merepresentasikan semua suku, budaya, dan agama yang ada di Indonesia.
Mau tidak mau bangsa Indonesia harus memilih, karena salah satu dari para capres ini nantinya akan memimpin Indonesia selama 5 tahun ke depan. Isu mengenai keduanya memang belum terbukti kebenarannya, namun jangan sampai “Ajang” Pilpres ini jangan sampai memcah belah keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Kita harus memilih, namun jangan sampai kita “Taklid” buta, gunakan AKAL DAN HATI kita untuk menentukan pilihan 9 Juli mendatang. Jadilah pemilih yang cerdas dan berkualitas. Demi Bangsa kita, Bangsa Indonesia..

Minggu, 28 Juli 2013

PUASA MENUMBUHKAN JIWA PEMIMPIN YANG MELAYANI


Pemimpin adalah pelayan bagi masyarakat,ini sudah menjadi kesepakatan bersama di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.Seiring berkembangnya pemahaman dewasa ini, justru lebih banyak pemimpin yang minta dilayani oleh umat ataupun bawahannya.Mari kita tengok ketika ada kunjungan kerja dari pejabat pusat atau pejabat yang memiliki level lebih tinggi. Pejabat daerah atau Jajaran yang lebih rendah sibuk memberikan pelayanan terbaik, dari penjemputan, penyediaan tempat tinggal, menyiapkan panggung untuk pemimpin, memberikan kelengkapan akomodasi sampai membawakan tasnya, menyertakan oleh-oleh bahkan tidak sedikit yang harus menyediakan ‘uang lelah’.
Masyarakat yang harusnya dilayani, saat ini menjadi terbalik. Pelayanan kepentingan masyarakat menjadi sangat sulit. Misalnya untuk membuat KTP, SIM, mengurus perijinan sampai pernikahan dan perceraian semuanya serba sulit.Bahkan tidak sedikit dari mereka yang meminta “uang pelicin” untuk mempercepat urusan itu semua.Bahkan untuk urusan mengubur jenazah harus membayar sejumlah uang agar semua berjalan dengan mudah.Pajak harus dibayar setiap waktu tapi pelayanan publik memprihatinkan.Sebagaimana pajak penerangan jalan yang dibayar setiap bulan namun kampung kita tetap kegelapan. ‘Aisjah r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda di rumahku ini : ya Allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya. (HR. Muslim).
Bagi seorang pemimpin, puasa bukanlah sekedar menahan diri dari lapar dari haus sejak fajar hingga matahari terbenam di bulan Ramadhan. Puasa seorang pemimpin ditujukan juga agar ia mampu menahan hawa nafsu dan mampu melayani masyarakat dengan lebih baik, mampu berbagi dengan Ummat, dan memberikan prioritas utama bagi kepentingan ummat.
Seandainya ada pemimpin seperti Umar bin Khatab yang rela berkeliling melakukan pengawasan langsung terhadap keadaan rakyatnya. Atau presiden seperti Syafrudin Prawiranegara yang tidak tamak dengan kekuasaan.Pejabat seperti Hamka yang selalu sederhana.Pemimpin partai seperti Wahid Hasyim yang selalu tawadhu atau Panglima yang zuhud (tidak cinta dunia) sebagaimana Sudirman. Tentu jiwa pelayanan kepentingan umat akan menjadi prioritas utama.
Kesadaran pemimpin untuk melayani masyarakat adalah praktik yang telah dilakukan dan telah dicontohkan oleh para nabi.Melayani dengan ketulusan, membantu orang untuk fokus pada kekuatan yang dimiliki, membantu orang dalam menyelesaikan masalah adalah praktik-praktik melayani yang memiliki kemuliaan.
Kepemimpinan didalam Islam pada hakekatnya adalah berkhidmat, mengabdi, atau menjadi pelayan bagi masyarakat.Kepemimpinan yang asalnya adalah Hak Allah diberikan kepada manusia sebagai Khalifatullah fil ardli, wakil Allah SWT di muka bumi.Jika bukan karena iradahNya, tak ada seorangpun yang mendapatkan amanah sebagai pemimpin, baik kecil maupun besar.Oleh karena itu setiap amanah kepemimpinan harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah.Allah memberikan amanah kepada pemimpin untuk (1) mengatur urusan orang yang dipimpinnya (2) mengarahkan perjalanan sekelompok manusia yang dipimpinnya guna mencapai tujuan bersama (3) menjaga dan melindungi kepentingan yang dipimpinnya.Wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada seorang pemimpin tidaklah ringan di mata Allah.Meskipun seringkali godaan syaitan dengan iming-iming keuntungan dunia telah memalingkan motivasi para pemimpin dari tujuan bersama.
Mengapa Allah SWT memberi kepercayaan kepada manusia untuk menjadi pemimpin di atas dunia ini?Dan siapakah para pemimpin sejati yang sesuai dengan tuntunan dari Allah?
Simaklah Firman Allah SWT
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS 2:30)
Bulan Puasa adalah momen yang tepat untuk melatih diri kita menjadi pelayanan bagi masyarakat.Untuk kita semua, Anda dan juga saya.

Ayyoooo Puasa!!!


Al-Qur’an Surat Al-Baqoroh ayat 183
''Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu bertakwa.''
Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung lagi penuh keberkahan. Bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu (kebajikan yang diharuskan) dan berjaga (untuk beribadah) di malam harinya suatu tathawwu' (kebajikan yang sangat dianjurkan). Barang siapa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di bulan yang lain. Dan barang siapa menunaikan suatu fardhu di dalam bulan Ramadhan samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan yang lain.
Melihat dari firman Allah SWT di atas, maka Puasa dimaksudkan agar kita bertaqwa kepada Allah SWT.orang yang berpuasa adalah orang yang terdekat dengan Tuhannya. Saat perutnya kosong, hatinya bersih, ketika hatinya merasakan kepuasan, saat rongga perutnya merasakan haus, dan saat matanya menangisakan permohonan magfiroh dari Allah. Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah, tapi dia mempunyai makna tersendiri. Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Qur'an, menahan syahwat dengan shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber'itikaf di masjid, dan lain-lain.Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan.
Syaikh 'Aidh Abdullah Al-Qarnidalam kutipannya 30 Renungan Ramadhan, mengungkapkan 13 hikmah dari puasa, yaitu:
·         Pertama, puasa mempersempit aliran makanan dan darah yang notabene merupakan aliran setan, sehingga dengan demikian bisikannya menjadi sedikit.
·         Kedua, puasa melemahkan syahwat, hasrat jahat dan keinginan maksiat sehingga ruh menjadi tak ternoda.
·         Ketiga, puasa mengingatkan orang yang berpuasa bahwa di antara saudara-saudaranya yang berpuasa ada yang kelaparan, membutuhkan pertolongan, fakir, dan miskin. Ibadah puasa mendidik pelakunya agar ia mau mengasihi, menyayangi dan menolong mereka.
·         Keempat, puasa adalah media pendidikan jiwa, pensucian hati, pengendalian pandangan, dan menjaga anggota tubuh dari dosa.
·         Kelima, puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, Allah SWT berfirman, ''Setiap amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Ia adalah untukku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.'' Sebab, tak ada yang mengetahui puasa seseorang kecuali Allah SWT.
·         Keenam, para salaf, berdasarkan riwayat yang shahih, duduk di masjid dengan Alquran mereka; membaca dan menangis; menjaga lidah dan mata dari hal-hal haram.
·         Ketujuh, puasa adalah alat pemersatu kaum Muslimin. Mereka berpuasa pada waktu bersamaan, dan buka pada saat yang sama pula. Merasakan lapar bersama, makan bersama, dengan rukun dan penuh persaudaraan, dengan cinta dan kesetiakawanan.
·         Kedelapan, puasa adalah penghapus kesalahan dan penyirna kejahatan. Nabi bersabda, ''Dari satu Jumat ke Jumat lain, dari satu umrah ke umrah lain, dari satu Ramadhan ke Ramadhan lain adalah kaffarat (penghapusan dosa-dosa) selama bukan termasuk dosa besar.''
·         Kesembilan, puasa sungguh sehat untuk tubuh, sebab ia mengosongkan perut dari semua materi yang destruktif, mengistirahatkan pencernaan, dan membersihkan darah. Selain itu, menormalkan kerja hati, ruh menjadi cerah, jiwa menjadi bersih, dan akhlak menjadi terbina karenanya.
·         Kesepuluh, bila seseorang berpuasa, maka dirinya terasa kerdil di hadapan Allah; hatinya mudah terenyuh; rasa rakusnya menipis; syahwatnya sirna; sehingga dengan demikian doanya dikabulkan karena kedekatannya kepada Allah SWT.
·         Kesebelas, dalam puasa terdapat rahasia agung, yakni ketaatan menyembah Alah SWT, patuh atas segala perintah-Nya, tunduk kepada syariah-Nya, meninggalkan hasrat makan, minum dan bersetubuh untuk mencari keridhaan-Nya.
·         Kedua belas, puasa merupakan kemenangan seorang Muslim mengalahkan hawa nafsunya; kemenangan seorang Muslim atas dirinya.
·         Ketiga belas, puasa adalah eksprimen luar biasa bagi jiwa agar ia berada pada kondisi siap seratus persen untuk menanggung beban dan menghadapi persoalan; siap menunaikan pekerjaan-pekerjaan penting dan agung seperti jihad fi sabilillah; menginfakkan harta benda di jalan Allah dan berkurban.
Ramadhan bulan Penuh Anugerah, Penuh Berkah, dan Penuh Rahmat serta Penuh Rejeki bagi umat muslim. Barang siapa memberi makanan berbuka kepada seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya sehingga dia terbebas dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakan puasa itu tanpa sedikitpun berkurang. Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, tidak semua di antara kami memiliki makanan berbuka puasa itu untuk orang yang berpuasa." Maka Rasulullah bersabda: "Allah memberikan pahala kepada orang tersebut meskipun hanya memberikan sebutir korma, atau seteguk air, atau sehirup susu."

Ramadhan adalah bulan yang permulaanya rahmat, pertengahnya ampunan, dan akhirnya bebas dari neraka.Barang siapa meringankan beban pembantu atau karyawanya, Allah pasti mengampuni dosanya dan membebaskanya dari neraka.Karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara yang kamu lakukan untuk menyenangkan Tuhanmu dan dua perkara lagi untukmu yang sangat kamu butuhkan.Dua perkara yang untuk menyenangkan Allah, adalah mengakui dengan sesungguhnya tidak ada Tuhan selai Allah dan mohon ampun kepada-Nya.Dua perkara lagi yang sangat kamu butuhkan, adalah mohon surga dan berlindung dari neraka.

Jumat, 12 April 2013

Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia


Sejarah pertumbuhan dan perkembangan Peradilan Agama di Indonesia tidak akan pernah terlepas dari Sejarah dan tumbuh kembangnya Hukum Islam dan dinamika Politik Hukum di Indonesia. Dilihat dari aspek Historis, Perkembangan dan Ekistensi Hukum Islam di Indonesia sesungguhnya berjalan secara beriringan dengan kehadiran Islam di Nusantara. Ada sebuah ungkapan  ‘‘ Ubi Societas Ubi Ius‘‘ yang artinya  di mana ada masyarakat maka disitu ada Hukum, ungkapan diatas memberikan pemahaman pada penulis bahwa tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa Hukum telah ada pada masyarakat Indonesia[1] sebelum Islam masuk dan berkembang bahkan semenjak masyarakat ini menginjak dan mendiami Kepulauan Nusantara ini. Maka ketika Islam hadir ke Kepulauan Nusantara ini, Hukum Islam telah menyatu dalam setiap lini kehidupan Masyarakat Nusantara. Premis dasar yang mendukung argument ini adalah bahwa konsepsi Hukum Islam merupakan bagian utuh dalam totalitas ajaran Islam yang faktualnya tidak mungkin dapat dipisahkan dari Agama Islam itu sendiri.[2]

Rabu, 10 April 2013

Partisipasi Penganggaran dengan Senjangan Anggaran

Menurut penelitian yang dilakukan Ikhsan dan Ane (2007:4) mengenai semakin tinggi partisipasi yang diberikan kepada bawahan, bawahan cendrung berusaha agar anggaran yang mereka susun mudah dicapai, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melonggarkan anggaran atau menciptakan senjangan anggaran. Menurut penelitian Hermanto (2003:91), partisipasi juga menghasilkan peluang yang lebih besar dari bawahan untuk menciptakan senjangan anggaran karena dengan pemberian rewards perusahaan kepada bawahan didasarkan pada pencapaian anggaran, maka penilaian kinerja yang baik. Sehingga, pada organisasi yang memberikan rewards berdasar pencapaian anggaran adalah positif.