Minggu, 28 Juli 2013

PUASA MENUMBUHKAN JIWA PEMIMPIN YANG MELAYANI


Pemimpin adalah pelayan bagi masyarakat,ini sudah menjadi kesepakatan bersama di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.Seiring berkembangnya pemahaman dewasa ini, justru lebih banyak pemimpin yang minta dilayani oleh umat ataupun bawahannya.Mari kita tengok ketika ada kunjungan kerja dari pejabat pusat atau pejabat yang memiliki level lebih tinggi. Pejabat daerah atau Jajaran yang lebih rendah sibuk memberikan pelayanan terbaik, dari penjemputan, penyediaan tempat tinggal, menyiapkan panggung untuk pemimpin, memberikan kelengkapan akomodasi sampai membawakan tasnya, menyertakan oleh-oleh bahkan tidak sedikit yang harus menyediakan ‘uang lelah’.
Masyarakat yang harusnya dilayani, saat ini menjadi terbalik. Pelayanan kepentingan masyarakat menjadi sangat sulit. Misalnya untuk membuat KTP, SIM, mengurus perijinan sampai pernikahan dan perceraian semuanya serba sulit.Bahkan tidak sedikit dari mereka yang meminta “uang pelicin” untuk mempercepat urusan itu semua.Bahkan untuk urusan mengubur jenazah harus membayar sejumlah uang agar semua berjalan dengan mudah.Pajak harus dibayar setiap waktu tapi pelayanan publik memprihatinkan.Sebagaimana pajak penerangan jalan yang dibayar setiap bulan namun kampung kita tetap kegelapan. ‘Aisjah r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda di rumahku ini : ya Allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya. (HR. Muslim).
Bagi seorang pemimpin, puasa bukanlah sekedar menahan diri dari lapar dari haus sejak fajar hingga matahari terbenam di bulan Ramadhan. Puasa seorang pemimpin ditujukan juga agar ia mampu menahan hawa nafsu dan mampu melayani masyarakat dengan lebih baik, mampu berbagi dengan Ummat, dan memberikan prioritas utama bagi kepentingan ummat.
Seandainya ada pemimpin seperti Umar bin Khatab yang rela berkeliling melakukan pengawasan langsung terhadap keadaan rakyatnya. Atau presiden seperti Syafrudin Prawiranegara yang tidak tamak dengan kekuasaan.Pejabat seperti Hamka yang selalu sederhana.Pemimpin partai seperti Wahid Hasyim yang selalu tawadhu atau Panglima yang zuhud (tidak cinta dunia) sebagaimana Sudirman. Tentu jiwa pelayanan kepentingan umat akan menjadi prioritas utama.
Kesadaran pemimpin untuk melayani masyarakat adalah praktik yang telah dilakukan dan telah dicontohkan oleh para nabi.Melayani dengan ketulusan, membantu orang untuk fokus pada kekuatan yang dimiliki, membantu orang dalam menyelesaikan masalah adalah praktik-praktik melayani yang memiliki kemuliaan.
Kepemimpinan didalam Islam pada hakekatnya adalah berkhidmat, mengabdi, atau menjadi pelayan bagi masyarakat.Kepemimpinan yang asalnya adalah Hak Allah diberikan kepada manusia sebagai Khalifatullah fil ardli, wakil Allah SWT di muka bumi.Jika bukan karena iradahNya, tak ada seorangpun yang mendapatkan amanah sebagai pemimpin, baik kecil maupun besar.Oleh karena itu setiap amanah kepemimpinan harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah.Allah memberikan amanah kepada pemimpin untuk (1) mengatur urusan orang yang dipimpinnya (2) mengarahkan perjalanan sekelompok manusia yang dipimpinnya guna mencapai tujuan bersama (3) menjaga dan melindungi kepentingan yang dipimpinnya.Wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada seorang pemimpin tidaklah ringan di mata Allah.Meskipun seringkali godaan syaitan dengan iming-iming keuntungan dunia telah memalingkan motivasi para pemimpin dari tujuan bersama.
Mengapa Allah SWT memberi kepercayaan kepada manusia untuk menjadi pemimpin di atas dunia ini?Dan siapakah para pemimpin sejati yang sesuai dengan tuntunan dari Allah?
Simaklah Firman Allah SWT
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS 2:30)
Bulan Puasa adalah momen yang tepat untuk melatih diri kita menjadi pelayanan bagi masyarakat.Untuk kita semua, Anda dan juga saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar